Sebenarnya gambar pendukung ini sudah cukup lama saya posting di laman Facebook milik saya. Meskipun, saya memposting gambar tersebut pun dengan rentang cukup lama dari masing-masing kejadian. Kebetulan, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, kala itu Jepang masih dalam kondisi recovery pasca gempa dan masih heboh-hebohnya mengenai PLTN Fukushima yang sebenarnya tak seheboh yang diberitakan (membanding-bandingkan dengan kasus Chernobyl).

Berita-berita di televisi NHK pada saat itu, meski saya tidak mengerti bahasanya, cukup sering menayangkan berita tentang recovery pasca gempa dan tsunami. Bedanya dengan di Indonesia, di Jepang tak ada tayangan-tayangan mendramatisir dengan iringan back song A la Ebit G. Ade yang justru semakin menyayat-nyayat dada merasakan perihnya bencana. Yang diberitakan adalah bagaimana pemerintah dan relawan begitu tanggap mengatasi bencana yang terjadi, dan kenyataannya memang iya. Ditambah dengan bumbu-bumbu penyemangat tanpa ada sedikitpun pendramatisiran keadaan.

Kala itu daerah yang terkena dampak bencana paling parah adalah pesisir timur perfektur Miyagi yang beribukota di Sendai. Sekitar 470 KM persegi wilayah itu hancur disapu tsunami. tak hanya kehilangan rumah, namun para pengungsipun kesulitan mendapatkan air bersih.

Sempat ada tayangan di televisi ketika ada pembagian air bersih untuk para pengungsi di sebuah halaman sekolah di Sendai, kebetulan ketika saya iseng browsing di Internet, saya menemukan gambar dengan pemandangan serupa. Pemandangan yang sangat menarik, mereka mengular mengikuti garis yang sudah dibuat oleh para relawan dan petugas. Tak ada kericuhan, tak ada korban jiwa hanya karena berebut air bersih. Bahkan dalam kondisi yang sangat beratpun, mereka masih bisa menahan ego mereka.

Mari kita kembali ke tanah air, budaya antri nampaknya belum termasuk budaya yang membudaya di tengah masyarakat kita. Baik pengantri maupun petugas yang melayani antrian terkadang cuek dengan budaya ini. Orang menyerobot antrian pun masih saja dilayani. Gambar di atas adalah peristiwa yang terjadi pada tahun 2008 di pasuruan pada saat pembagian zakat yang dilakukan oleh Haji Soikhun di sebuah musholla. Setidaknya 21 orang wanita tewas, dan 13 orang lainnya luka-luka hanya..ya hanya untuk memperebutkan uang zakat sebesar Rp. 20.000,00.

Sebaiknya marilah kita mencoba memulai untuk membudayakan budaya antri, menahan ego kita masing-masing untuk kenyamanan bersama. ketika masing-masing mengalah bukan pula mereka itu kalah. Justru semakin banyak manfaat yang bisa dirasakan. Budaya saling serobot itu budaya bar-bar yang sebenarnya jauh dari budaya ketimuran yang menjunjung tinggi kesopanan dan kesantunan, budaya yang merampas hak-hak orang lain, budaya yang harus segera ditinggalkan.