Curiosity and The Problem of Research in Indonesia

It was November 16th, 2011 when The National Aeronautics and Space Administration (NASA) launched their Mars expedition, called Curiosity.  Travelled 350 million miles away from the earth, Curiosity’s assignment is to “investigate whether conditions have been favorable for microbial life and for preserving clues in the rocks about possible past life.”

Around US$2.5 billion (equal to IDR 25 trillion) have been spent for the mission. It was only a chunk of spending over a period of eight years mission including the cost over the next 23 months while Curiosity is exploring Mars. Now, we must be wondering, why did they spend such an unreasonable spending?  NASA states: “The ancillary benefits of the space program (are) its ability to stimulate the economy; its applications to the solutions of earthbound problems; its contributions to international cooperation; and its creation of tens of thousands of jobs for our highly skilled scientists, engineers and technicians.”

nasa-4

Continue reading

Ahh..Toh Aku Bakal Dikasihani..

Beberapa waktu lalu ada keluhan seorang perempuan yang diposting di media sosial karena diminta memberikan tempat duduknya untuk seorang ibu hamil di kendaraan umum. Siapa sangka, keluhannya tersebut dengan cepat menyebar bak api yang menyambar belukar di ladang yang kering. Beragam reaksi diterima perempuan bernama Dinda tersebut yang tentunya mayoritas berisi kecaman dan sumpah serapah kepada dirinya.

1094290_20140416053255Keluhan Dinda di media sosial Path

Setelah mengetahui keluhannya terhadap ibu hamil tersebut menyebar luas dengan liar di media sosial, lantas Dinda mengeluarkan pembelaannya dengan menekankan bahwa untuk mendapatkan tempat duduk, dia rela untuk berangkat jam 5 pagi. Dia mengeluh karena dengan pengorbanan yang dia lakukan tetap saja dia harus menyerahkan tempat duduknya untuk si Ibu hamil tadi, sehingga dia merasa enggan untuk memberikannya begitu saja. Lalu dia menyarankan kepada orang-orang yang mencaci-maki dia untuk ikut merasakan pengorbanan yang dia lakukan setiap hari. Sayang, tidak ada penjelasan mengenai tempat duduk yang dimaksud, apakah itu common seat atau priority seat. Menurut saya, pembelaan ini tidak bisa dibenarkan atau disalahkan begitu saja tanpa melihat duduk perkara yang sesungguhnya.

Continue reading

STOP Pengiriman TKW ke Luar Negeri!

STOP TKW

Miris! Begitulah ungkapan yang bisa saya ungkapkan ketika membaca dan mendengar tentang nasib dan kehidupan para Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri, terutama di Arab Saudi. Ratusan TKW kini menunggu eksekusi hukuman dari pemerintah Arab Saudi. Bahkan, beberapa diantaranya sudah dieksekusi mati dengan hukuman pancung sekali tebas seperti yang dialami Ruyati pada Juni 2011 dengan dakwaan telah membunuh majikannya.

Di tahun yang sama, ada TKW bernama Darsem yang juga terancam hukuman pancung karena didakwa membunuh. Tapi nasib berkata lain, karena dukungan masyarakat dan rasa nasionalisme kebangsaan yang begitu tinggi, Darsem lolos dari algojo hukum pancung di Arab Saudi. Bahkan, dengan uang 1,2 Milyar hasil sumbangan masyarakat, Darsem bisa hidup mewah bergelimang harta.

Tahun 2014, lagi-lagi kita dikejutkan oleh berita mengenai seorang TKW bernama Satinah. Dakwaannya sama, pembunuhan. Celakanya, kali ini keluarga korban menuntut Diyat yang sangat tinggi, 21 Milyar! Meskipun pihak Kemenlu berusaha untuk menawar Diyat sampai 12 Milyar, namun keluarga korban tetap ngotot meminta diyat sebesar 21 Milyar dengan tenggat waktu.

Sebenarnya tahun lalu, 2013, ada lagi peristiwa mengejutkan yang lagi-lagi melibatkan TKW asal Indonesia. Korbannya adalah balita bernama Tala Al-Shehri. Wanita ini dengan teganya menggorok leher Tala hinggi hampir putus. Simak wawancaranya di tautan di bawah ini (Transkrip dan terjemahan pada bagian description),

Ada artikel menarik yang berisi kerisauan seorang WNI yang bersuamikan seorang WN Arab Saudi, membacanya membuat saya tertegun sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepala. Mengapa? Dulu saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang tinggal di Jeddah, Arab Saudi, ketika terjadi kerusuhan di KBRI Jeddah yang melibatkan para TKI/TKW overstayed. Dia waktu itu sangat gregetan karena apa yang diberitakan di Indonesia sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di lapangan. Dia bercerita panjang lebar mengenai kehidupan dan tabiat para TKW di Arab Saudi sana, saya hanya bisa tertegun.

Artikel tadi saya share di laman Facebook saya dan meminta pencerahan dari kawan saya tadi, berikut tanggapannya :

Sebenarnya cerita ini sudah saya jelaskan ke pak bos saya yaitu beliau bos besar Dian Nandi Wardhana
Benar tidaknya berita tersebut saya boleh bilang dengan jujur tanpa ada tendensi untuk merendahkan bangsa Indonesia disini bahwa berita itu benar ad
anya…

Ada beberapa tambahan mengenai kehidupan TKW disini,, saya mencoba memberikan contoh SANGAT KECILtentang sekelumit yang bikin miris tentang mayoritas TKW yang disini, dimana saya akan ajak anda sendiri yang seolah2 menjadi majikannya…

Jika anda punya PRT, dimana beliau hanya bisa mengerti bahasa daerahnya saja, tidak bisa membaca dan menulis, dan hanya bisa memasak masakan daerahnya saja. Tetapi anda telah membayar mahal (minimal 30-50juta tergantung agensinya) kepada agensi yang menyalurkan PRT itu sendiri juga dokumen yang berbelit2 dan kontrak yang yang sangat rumit, apa yang akan anda lakukan?

Okelah kemudian anda mau mengajarinya di awal2, kemudian PRT itu merasa ga betah karena budaya yang ada di keluarga anda berbeda dengan budaya beliau dan juga beliau sering kesepian karena ga bisa ngobrol dengan teman sedaerahnya. Belum lagi homesick ingin pulang ke daerahnya dan anda harus menyiapkan uang tiket pp dengan uang bekal nya kalau PRT itu mau pulang ke daerahnya (minimal 15-30juta).

Okelah anda kasih weekend ke PRT anda untuk bisa berlibur, agar bisa berlibur dengan teman2 sedaerahnya, mereka pasti akan berbicara mengenai gaji dan majikan mereka masing2. Dan tentunya ada rasa iri akan gaji dan majikannya itu sendiri. 

Nah ketika itu si PRT merasa semakin tidak nyaman, karena beliau merasa anda tidak memberikan gaji yang sebesar PRT yang lain dan juga anda dirasa tidak sebaik majikan yang lain. Maka apa yang akan anda lakukan? Mengembalikan ke agensi nya? Tentunya anda sangat butuh dengan adanya pembantu ini, kalopun anda ingin mengembalikan dan mengganti dengan yang baru maka anda harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit (minimal 30-50juta tergantung agensinya). Tentunya anda akan berpikir ulang untuk komplain dan ganti PRT lainnya.

Oke anda merasa kekeuh bahwa anda memenuhi sesuai hak nya dan merasa wajar memanusiakannya, tapi ketika PRT itu masih merasa ga nyaman karena cerita2 tersebut, maka ada 3 kemungkinan yang akan dilakukan oleh PRT itu sendiri.
1. Kabur dari tempat tinggal anda dan menjadi WN ilegal
2. Membuat gara2 dengan anda atau keluarga anda (kriminal, pembunuhan, pencurian, dsb)
3. Bersabar menerima keputusan anda (ini paling kecil prosentasinya)

So ini contoh sangat kecil dari kehidupan TKW yang ada di Arab terutama di Arab Saudi terutama di Jeddah, dimana di Jeddah sendiri +- 50% TKI di Arab Saudi (yang tercatat oleh KBRI) ada di Jeddah, 70% nya adalah TKW domestic labor (PRT). Dan 95% dari PRT itu tidak bisa menulis dan membaca. (Semua data ini adalah data yang tercatat oleh KBRI, prosentase yang tercatat hanya 30% saja).

Pendapat dari saya adalah majikan dan pembantu semuanya itu manusia. Tidak ada yang sempurna.
So mari dukung untuk menghentikan pengiriman TKW domestic labor (PRT) ke luar negeri.

FOR THE SAKE OF OUR NATIONAL DIGNITY, STOP SENDING DOMESTIC LABORS ABROAD!!

Islam Ritual

Sudah lama saya memendam keinginan untuk menuliskan uneg-uneg tentang  fenomena Islam ritual. Sejauh ini, saya hanya mengutarakannya melalui diskusi-diskusi ringan di warung kopi dengan sahabat maupun diskusi santai di atas kasur dengan keluarga di rumah. Sampai akhirnya timbul lah keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Terus terang isu ini, bagi saya, sangat menggelitik dan menarik. Mungkin, bisa juga dibilang bikin gregetan yang sampai harus menggertakkan gigi sambil mengepalkan kedua tangan keras-keras sembari mengucapkan “Rrrrrr!!”.

Saya punya definisi sendiri mengenai Islam ritual, walaupun sebenarnya Islam ritual sendiri adalah istilah saya untuk mendefinisikan secara singkat sebuah fenomena di kalangan pemeluk islam. Ritual, menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal-hal yang berkenaan dengan ritus. Sementara ritus sendiri mempunyai arti tata cara dalam upacara keagamaan. Di dalam Islam, hal-hal ritual mencakup shalat, tadarus Al-Qur’an, zakat, haji, umroh, dll.

Lalu apa yang salah dari ritual-ritual dalam Islam tadi? Bukannya kita emang dituntut dan diwajibkan untuk menjalankan ritual-ritual tadi karena disamping itu merupakan perintah Allah, kita juga akan mendapatkan pahala yang besar darinya? Tidak! Dan sekali lagi tidak ada yang salah ketika kita mengerjakan ritual-ritual tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalankan ritual-ritual tersebut hanya sebatas ritual. Mengerti maksud saya?

Continue reading

Bhineka Tunggal Ika, katanya…

bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda sekolah pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda kampung pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda dukung klub bola pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda partai pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda suku pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda aliran agama pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya beda agama pun saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…
Nyatanya apapun yang beda berpotensi saling serang.

Bhineka Tunggal Ika, katanya…

gambar oleh : http://planktoncreative.deviantart.com

Tentang Oleh-Oleh

Gift

Pagi ini ketika saya menengok Time Line Twitter, saya mebaca tweet seorang teman yang hobi traveling.

Sebagai traveler yang sering bepergian keliling tempat-tempat baru ataupun orang yang tinggal di luar daerah atau negeri biasanya akan sangat familiar mendengar kata-kata, “Jangan lupa oleh-oleh yaa!” atau “Eh, kalau balik aku titip A, B, C, D, dan E donk, please!” atau kata-kata sejenis.

Continue reading

Being Glad Is Different as Being Happy

I don’t really know what is now passing trough on my mind this afternoon. After having conversation with my Mom last night, I just want to write about this as my self-reminder. We were talking quite much in our 3 hours conversation (Thanks to LINE developers and Internet inventors who made my communication with my family much easier and indeed CHEAP! lol).

As my decision to quit the company and leave Japan next year, we were talking a bit (or maybe a lot) about my future plan and life.  I told my mom that I want to focus on my own business, regardless the money which I will earn. I told her that I want to take my Master degree in Business Administration as well. Then the conversation started, she gave me a lot of advice and encouragement as well.

Continue reading