Menyikapi Kasus SMA 8 Yogyakarta

Gapura Delayotabelum lama ini tiba-tiba saja, mantan almamaterku jadi pembicaraan orang luas. Bahkan sudah sampai taraf nasional. Nama SMA 8 Yogyakarta jelas terpampang di halaman media massa lokal maupun nasional, “Kebesaran” nama SMA 8 pun tak luput dari kamera para wartawan berita TV.

Yah, itulah fenomena yang terjadi di SMA 8 Yogyakarta ketika sang Kepala Sekolah dan beberapa jajarannya dituduh melakukan Korupsi dana APBS oleh sebagian anggota komite sekolah tidak tetap.

Kali ini saya benar-benar tidak mau memihak dan mencoba menyikapi masalah ini lebih bijak.

Semenjak kasus ini muncul, sampai akhirnya diberitakan di berbagai media massa, saya sebagai salah satu alumni DELAYOTA merasa prihatin bercampur malu sekaligus dilematis. Prihatin karena, menurut saya, masalah ini sepertinya kurang disikapi secara dewasa sehingga masalah intern seperti ini sampai terdengar di kalangan umum apalagi sampai “melibatkan” siswa dalam kasus ini. Malu, karena dengan munculnya kasus ini seakan-akan citra SMA 8 Yogyakarta menjadi jelek yang pada ahirnya dikhawatirkan nila setitik rusak susu sebelangga. Dilematis, karena sebenarnya ada juga rasa kekecewaan saya pada pihak sekolah (mohon maaf, mugkin lebih tepatnya oknum) ketika saya berusaha mmencoba mengangkat nama SMA 8 Yogyakarta malah ditanya masalah pembagian “hasil”, namun bagaimana juga mereka adalah mantan guru-guru saya yang sudah membimbing saya sehingga saya bisa seperti ini.

Belajar dari kasus ini, sebaiknya kita jangan melakukan justifikasi terhadap orang yang kita duga melakukan kesalahan. Memang, gak ada maling yang mau ngaku. Tapi sebaiknya kita melakukan investigasi di bawah meja untuk memperoleh bukti-bukti yang kuat (bukan dugaan lagi, tapi bukti otentik) kemudian membawa permasalahan ini kepada yang berwenang disertai bukti-bukti otentik yang kita miliki. Dan yang paling penting, selama proses ini jangan terburu melakukan provokasi, masalahnya provokasi bisa memancing emosi orang-orang yang sebenernya tidak tahu permasalahnnya secara detail, istilah jawanya Waton Suloyo.

Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah bahwa kasus ini melibatkan sebuah instansi bernama Sekolah yang sewajarnya menjadi tempat untuk berbagi ilmu dan saling memberikan suri tauladan yang baik. Para siswa hendaknya jangan terlalu dilibatkan dalam permasalahan ini. Tapi bukannya kemudian mereka tidak boleh tanggap terhadap permasalahan ini. Hanya saja faktor psikologis terhadap kasus ini bisa saja berpengaruh kepada kegiatan akademis yang dikhawatirkan bisa menurunkan prestasi mereka. Terutama adek-adek kelas 3 yang sebentar lagi harus menempuh ujian demi masa depan mereka.

Yah, pada akhirnya saya hanya bisa berpesan supaya kasus ini bisa disikapi lebih arif dan bijaksana. buka mata hati kita semua, instropeksi, yang pasti semua manusia tidak pernah tidak berbuat kesalahan. Tapi kesalahan bisa ditebus dengan kata maaf dan tekad untuk memperbaiki kesalahan.

Semoga saja kasus ini segera berakhir, sehingga kita tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Dan yang paling penting, supaya nama SMA 8 Yogyakarta kembali berkibar karena prestasinya.

Mohon maaf apabila tulisan saya ini menyinggung salah satu atau kedua belah pihak. Sekali lagi saya mohon maaf. Salam Prestasi buat DELAYOTA!!!

26 thoughts on “Menyikapi Kasus SMA 8 Yogyakarta

  1. sepakat mas…ak setuju..

    tapi kita tetep butuh media untuk memberikan ‘tekanan’ ke penguasa2 itu biar kasus ini segera diselesaikan.

  2. nambahi siji meneh hehehe

    “…Tapi kesalahan bisa ditebus dengan kata maaf dan tekad untuk memperbaiki kesalahan…”

    —> tapi yo duite tetep balekke..

  3. aq setuju m qm pah. oy, pemeriksaan2 yang ada selama ini sudah ada hasilnya. smoga hasil tersebut adalah yang terbaik untuk semua pihak. semoga aq dan temen2 semua bisa blajar lagi dengan tenang tanpa ada tekanan dari berbagai pihak. amin. doain y biar bisa berprestasi lagi n acara2ya gg terhambat. ;D

  4. that was hard in the first time, but next? hikmah itu ada, dalam setiap hal, ada pelajaran ynag bisa kita dapat. semoga semuanya bisa sama” beljar.

  5. Hehehehe…

    Sudah merupakan suatu siklus… bahwa suatu sekolah itu akan mengalami yang namanya menjadi favorit dan menjadi morat marit ^^,
    So, tunggulah, SMA mana yang nantinya bakalan menggantikan posisinya SMA 8
    SMA 2 ataukah SMA 6…
    Gantian yah……

  6. nambah siji yo…..
    kok pak AS masih jabat kasek tuh? katanya kena sanksi? trus gimana dong kebenaranya? trus kok sekarang media jarang komentar ya? apa dianggap udah clear? atau gimana? sory ya kalo terlalu banyak pertanyaan, soalnya kabarnya ga’ jelas sampai sekarang, dan juga belum kelihatan pak abu bersalah atau hanya diduga bersalah, karna kalo bersalah pasti ada sanksinya

  7. @feee, sampean seko depaster yo
    Gpp wes SMA 6 ato 2 menempati posisi SMA 8 di peringkat 3, tapi tunggu setelah delayota naek menggusur padmanaba ato teladan yach :p
    Eniwei, pak Abu ini guru agama temennya pak Ali Mulyono itu bukan ? Dulu jaman angkatan 1992-1995 guru agamanya kan pak Ali dan pak Abu (mbuh lengkape sopo, lali dab :D). Makanya aku ga ngerti, iki pak Abu yang itu bukan seh ?

    ..jaya jayalah, SMA kita
    SMA delapan jogjakarta….

  8. Wah aku ikut sedih dengan kasus di sma ku.Emang kalo dengar cerita-cerita guru sma 8 sekarang , susah mbayangin sikap dan perilaku guru-gur yang dulu, yang menyenangkan, tulus, penuh pengorbnanan, perhatian. Wah …

  9. weleh-weleh, ora ngiro paxi iso dadi koyo ngene, mesakake tenan kowe. Mugo-mugo bar iki ora kakean masalah meneh

  10. kejadian itu pas angkatanq (2008) sibuk2nya belajar bwt ujian,kelas 3 je…. semuanya telah menjadi kenangan….. miss u delayota

  11. Sudah 15 tahun aku tinggalkan Delayota, rindu aku pada harumnya aroma susu SGM disaat belajar di kelas tapi yang terdengar justru kabar menyedihkan seperti ini. Viva delayota

  12. Tidak pernah dengar kabar delayota, malam ini malah baca seperti ini. Mudah mudahan cepat selesai masalahnya.
    Buat guru delayota dan guru guru lainnya yang sudah memberikan contoh hidup yang mulia, tulus dalam memberi, iklas dalam mengabdi saya ucapkan terima kasih.
    Jadi kangen sama bu sumiyati (guru ngetik) dimana beliau sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s