Generasi Karbitan Ala Indonesia

Pada saat blogwalking, saya menemukan tulisan dengan judul “Calistung di TK, haruskah?” dari sebuah blog milik seorang kepala sekolah sebuah TK bertaraf Internasional di Singosari, Malang.

Membaca tulisan ini, saya menjadi teringat kembali pengalaman saya 18 tahun yang lalu (based on my mom’s story) ketika saya yang masih imut-imut itu mulai mengenyam pendidikan sekolah taman kanak-kanak di sebuah kota bernama Aachen, Deutschland. Visi dan misi yang diterapkan oleh si penulis kepada sekolahnya hampir sama dengan apa yang saya alami waktu itu. Masa taman kanak-kanak tampaknya hanyalah masa-masa untuk bermain, bermain, dan bermain. Tidak ada pelajaran membaCA, menuLIS, dan berhiTUNG. Yang ada hanyalah “pelajaran” bermain, bernyanyi, melukis, dan bersosialisasi.

waldorf-kindergarten-germany

Ada sebuah pengalaman “pahit” yang dialami oleh ibu saya karena memiliki anak “cerdas” seperti saya. Saat itu saya sedang membaca sebuah buku di ruang kelas, di saat teman-teman yang lain sibuk dengan permaian “kota-kotaan” (sebidang karpet yang bergambar jalan raya dan pekarangan rumah, kita dapat bermain mobil-mobilan dan membuat rumah-rumahan di atas karpet tersebut. Mainan ini menjadi mainan favorit kami waktu itu).

01e2e061_car-city-carpet

Guru saya menghampiri ibu saya dan kurang lebih berkata “apa yang Ibu lakukan terhadap Dian?”, sambil melirik ke arah saya, mengerutkan dahi, sekaligus mengangkat bahunya, dan setelah itu pergi tanda tak suka. Ibu saya terheran-heran, bukankah wajar anak usia TK sudah bisa membaca (mungkin tingkat kewajaran yang dimaksud Ibu saya adalah tingkat kewajaran yang berlaku di Tanah Air Tercintanya). Jangankan membaca, membedakan huruf O dan angka 0 saja anak-anak TK di Jerman Barat tidak bisa. Sementara saya yang “cerdas” itu sudah pandai membaca kisah-kisah Nabi setebal buku telepon dengan lancar.

Lantas kenapa mereka bisa jauh lebih cerdas daripada bangsa yang sejak TK sudah pandai berhitung “Aljabar Linier” ini? sebenarnya bukan cerdas atau tidak, tapi lebih ke pengembangan diri yang lebih sistematis jangka panjang dan tidak instant. Tampaknya mereka sangat paham tentang perkembangan psikologi anak. Mereka hanya memberikan apa yang seharusnya diberikan. Anak-anak usia TK adalah anak-anak dengan masa-masa membangun pondasi karakter dan kepribadiannya, mereka membiarkan anak mereka larut dalam permainannya dan pergaulan dengan teman-temannya. Menginjak usia SD (Disana untuk bisa masuk SD, harus berusia tidak kurang dari 7 tahun) anak-anak mulai diajari menulis dan berhitung. Menginjak usia 11 tahun, ada evaluasi terhadap perkembangan bakat dan akademis si anak, mereka yang lebih dominan bakatnya akan disekolahkan ke sekolah bakat sesuai bakatnya masing-masing dan mereka yang sisi akademisnya lebih menonjol dipersilahkan untuk melanjutkan ke kelas 5. Menginjak usia 17 tahun, anak diberi pendidikan untuk hidup mandiri, seperti harus mencari pekerjaan untuk uang saku mereka.

Bagaimana dengan Indonesia?? Anda lebih tahu jawabannya. Sistem pendidikan kita sepertinya lebih memiliki tendensi terhadap orang-orang yang berkepentingan, kurikulum ganti-ganti, tahun ini EBTANAS tahun berikutnya UAN, tahun ini UAN 5 mata pelajaran tahun berikutnya 3 mata pelajaran, dan bla..bla..bla tentang hal yang tidak urgent!!! Keadaan ini diperparah dengan kondisi sosial masyarakat di Indonesia yang memegang prinsip GENGSI is number one. “Eh jeng, anak saya yang umur 2 tahun udah bisa baca koran lho…”, “Waaahh, Ibu bangga adek udah bisa nulis”, “Kasian tuh jeng Vina, anaknya udah 4 tahun tapi belum bisa baca”… atau mungkin “Eh, anaknya keterima di Universitas mana? Fakultas apa?” itulah ungkapan-ungkapan yang sering muncul di masyarakat kita yang akhirnya memunculkan budaya “Membuat anak cerdas cara instant” dan hasilnya adalah GENERASI KARBITAN. Anak-anak yang seharusnya menikmati permaianan mereka harus dibebani dengan les ini les itu, anak-anak yang harusnya belajar bersosialisasi terlalu dibuat sibuk dengan PR-PR mereka, dan banyak lagi kekerasan terhadap anak yang secara tidak sadar telah dilakukan oleh orang tua mereka.

Nah, generasi karbitan inilah yang kini mengisi pembangunan di Indonesia. Generasi yang sudah muak dengan rumus-rumus matematika, fisika, dan kimia. Generasi yang otaknya sudah penuh dengan hapalan nama-nama menteri Orde Baru, UUD 45, tanggal-tanggal di dalam buku sejarah, pengertian sosiologi menurut ini..menurut itu. Generasi yang sudah bosan untuk belajar.

Jadi, bagaimana menurut anda?

19 thoughts on “Generasi Karbitan Ala Indonesia

  1. saya bersyukur, ternyata masih banyak orang bijak yang peduli dengan kebahagiaan anak-anak untuk menikmati masa emas mereka. Semoga pengalaman anda bisa menjadi referensi positif bagi orang tua untuk bisa memberikan sesuatu yang tepat sesuai fase-fase perkembangan anak dan meninggalkan kenangan indah bagi awal kehidupan anak-anak kita…

  2. this is wad kids supposed to do !!๐Ÿ˜€

    gila aj.
    qt udah belajar lebih dari 10 mapel selama 7 hari dgn waktu 1 jm pelajaran rata2 45 menit sehari masih kalah m mreka.

    belom lagi pemerintah yg suka ganti2 kurikulum seenak jidat.
    huft*

    bdw,
    ad hal yg aq rasa bgz bgd pah.
    “mereka membiarkan mereka larut dalam permainannya (tidak termasuk video game!!!)
    skg malah banyak ortu yg “eh jeng, anak saya skrg punya game baru lho. itu tuh yang tinggal diliat udah bisa nyala…”

    aaaiiihh.
    x6

  3. @zahrahm : InsyaAllah mbak, saya dukung visi mis anda…

    @ajidedim : gimana nih KPAI??

    @bintdbonz : kasian banget kamu naQ, dulu keknya gak separah itu deh waktu sekolah (walopun sebenarnya udah PARAH).

  4. mungkin selam ini kita telah merampas hak anak dari bermain-main hingga menyuruh berhitung,harap dimaklumi bahwa orang tua takut kalo anaknya gak bisa apa2,manalagi ditambah oleh beberapa ilmu psikologi yang faktanya belum tentu benar. Aku ingat ketika orang tua ku kalo ngasih main mobil-mobilan di pasir hingga kotor,dan orang tua ku bilang biar aja dia mau ngapain karena dengan itu dia akan belajar survive pada orang tua ketimbang kalo dia disuruh berhitung dan membaca…

  5. yes.
    yes.
    yes.

    i really in the same opinion with u.

    aje gile, UN tuh lama” cm pembodohan masal.
    apa yang kita pelajari-ampe bikin pendarahan otak-selama kurang lebih 3 taon, cuma dipake selama 6×120 menit *hell yeah, sekarang UN 6 mata pelajaran*.
    lalu buat apa pelajaran yang lain ?
    apa itu gg bikin kita jadi makin pilih” pelajaran ?
    trus maksud dan tujuan sekolah tuh apa?
    ngapalin rumus ?
    aarrggghhhh !!!

    *ratapan anak sma yang UN 6 mata pelajaran*

  6. mas, tak promoin tulisanmu ya…penting bgt. baca tulisanku yg “perang terbuka” menjelang PSB kasih koment juga ya. ak 1000% setuju dg tulisan mas. Sy abis bicara dg guru tK ponakan sy alasannya adalah: nanti TK saya ketinggalan dg yg lain..hwa….diagnosa paling aktual adalah guru di Indonesia MEMANG GA’ NGERTI DAN GA’ MAU NGERTI PERKEMBANGAN ANAK’.kalo mereka mau buka buku/ ikut seminar2 pendidikan anak, pasti ngerti, mereka cuma melihat fenomena dan mengikuti bukan jadi trendsetter tp follower, parahnya tanpa melihat kembali esensi dari pendidikan..menurut anda, what should we do to stop it? ak sedang dilanda kecemasan krn itu. benci bgt kan kalo kita liat sesuatu ga’ bener, but we couldn’t do something. terus tentang SD2 di Indonesia yg menerapkan tes masuk Calistung gmn mas?

  7. Iya tuh..heran saya, ibu-ibu yang punya anak TK pada panik kalo anaknya belum bisa nulis (semoga besok saya gak jadi ibu yang kayak gitu). Padahal dulu saya baru bisa baca-tulis pas kelas 1 SD, tapi sekarang ya..gak bodo2 amat, buktinya ya masih bisa nulis blog.. ;P
    BTW kalo gitu di jerman hampir mirip di Jepang. Saya pernah baca (tapi lupa dimana) bahkan sampai tingkat SD standar pelajaran di sana jauh lebih sederhana dibandingkan di Indonesia. Strategi itu agar anak-anaknya merasa jatuh cinta dengan belajar. Tapi jangan salah di tingkat selanjutnya lebih spesifik dan pasti lebih kompleks..

  8. iKUT………hehehehe….

    sebagai gambaran aja……………..aku sampai sd kelas 5 tuh bodoh banget…hehehehe…. TK??? wah itu masa paling indah…gak bisa baca,nulis, nyanyi gambar….hina banget deh….

    tapi ibuku biasa aja tuh…

    hehehehe…gak ngaruh tk nya pinter menurutku…tapi bagaimana mendidik kedepannya…..

  9. ya, ya..ada pengalaman pribadi..aku prihatin, kasian.. ketika adek sepupuku yang bahkan belum genap 6 tahun udah dimasukkan ke SD..dan udah dibebani dengan les-les biar nggak ketinggalan pelajaran. beberapa bulan yang lalu, dia bahkan dipindahkan ke salah satu SD yang menurut orangtuanya favorit di Jogja.. dimana di sekolah itu kalo nggak mencapai peringkat tertentu bakal di drop out.. omaigot dragon.. aku jadi penasaran banget gimana perkembangan psikologis anak2 yang besar dengan tuntutan seperti itu??? aku pribadi lebih setuju ketika masa taman kanak kanak pure untuk bermain… dan seperti yg aku pernah baca juga, mgkn kamu pernah tau buku Totto chan; gadis cilik di jendela??, nah aku suka tuh sistem pengajaran yang diceritakan di buku itu. hopefully, someday, aku dan cowokku yg sekarang bener2 bisa bikin sekolah dengan sistem pendidikan yang tidak hanya sekedar mendikte anak ajarnya.. school wasn’t fun when i was child..

  10. Nandi, ini kedua kalinya aku baca tulisanmu dan sampai sekarang aku masih setuju dengan isi tulisanmu ini.
    Bukan aku pesimis ataupun nyinyir terhadap bangsaku sendiri, tapi seperti perkembangan ekonomi, perkembangan pendidikan kita bakal cuma gitu2 aja selama kebijakan pemerintah juga gitu2 aja.
    Fine, aku bisa memberikan pendidikan dini (TK) ideal sesuai perkembangan anakku kelak, namun saat hendak masuk SD apa yg terjadi? Untuk masuk SD pun ada seleksinya yang menyertakan calistung dan bahkan interview dalam bahasa asing.
    Beberapa orang teman yang sudah punya anak di usia sekolah mengambil alternatif home schooling. Tapi menurut pendapat pribadiku saat ini, lingkungan sekolah tetap dibutuhkan anak untuk belajar banyak hal. Ada banyak hal yang tidak bisa didapatkan di homeschooling, dibanding di lingkungan sekolah konvensional.
    Yah, semua kembali ke geliat seluruh pihak yang terkait: pemerintah, akademisi, orangtua, dan tentunya pelajar itu sendiri. Tentu, aku pun masih terus berdoa dan ikut mengusahakan pendidikan yang lebih baik di negri kita.

    1. Yang menjadi masalah memang sistem kita Di. Dulu waktu aku sempat SD di Jerman pun tidak ada yang namanya rapot berisi angka-angka pengukur prestasi. Waktu itu setiap kenaikan kelas hanya diberi selembar kertas yang isinya hanya melaporkan perkembangan anak. Aku dengar itu sampai kelas 4. Dan itu jadi masalah ketika aku pindah ke Indonesia, untungnya waktu itu Ibuku sudah ngajarin calistung di luar sekolah. Sistem pendidikan kita ini lebih mengacu pada perkembangan otak dibanding perkembangan karakter. Aku baru-baru ini juga pernah nulis juga tentang Etika kepribadian dan etika karakter. Bagaimana kedua basis kesuksesan itu mempengaruhi perkembangan suatu bangsa.

      https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/etika-kepribadian-vs-etika-karakter/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s