Etika Kepribadian VS Etika Karakter

Akhir-akhir ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People” yang ditulis oleh Steven R. Covey.  Ya, cukup telat memang ketika baru sekarang membaca salah satu buku terlaris di dunia ini. Tapi, tiada kata terlambat,bukan? Ketika saya membaca sebuah Bab dalam buku tersebut yang menyinggung tentang “Etika kepripadian dan Etika karakter”, saya berhenti sejenak. Menurut saya, bagian tersebut cukup mengejutkan.

Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa banyak literatur-literatur tentang kesuksesan dalam 50 tahun terakhir (kalau tidak salah, buku tersebut ditulis tahun 2004) terlalu dangkal. Literatur-literatur tersebut diisi dengan kesadaran pencitraan social, teknik, dan cara cepat sebagai “perban sosial” dan aspirin yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah akut dan bahkan kadangkali terlihat sebagai pemecah masalah yang bersifat sementara, namun  membiarkan pokok-pokok masalah yang kronis tidak tersentuh lalu kemudian menjadi bernanah  dan bisa kambuh sewaktu-waktu.

Sebaliknya, hampir setiap literatur- literatur tentang kesuksesan dari 200 tahun yang lalu fokus terhadap apa yang disebut “Etika Karakter” sebagai pondasi dari kesuksesan. Etika Karakter adalah hal-hal semacam integritas, kerendahan hati, kesetiaan, keberanian, keadilan, kesabaran, dan lain sebagainya.

Namun tepat setelah Perang Dunia I, dasar pandangan terhadap kesuksesan bergeser dari Etika Karakter menjadi apa yang bisa kita sebut sebagai Etika Kepribadian. Kesuksesan menjadi lebih sekedar fungsi dari sebuah kepribadian, pencitraan publik, sikap dan perilaku, keahlian dan teknik, yang melumasi proses interaksi manusia. Etika Kepribadian pada dasarnya mengambil dua jalur: yang pertama adalah teknik interaksi/relasi antar manusia dan masyakarat, sedangkan yang kedua adalah sikap mental positif.

Bagian lain dari pendekatan kepribadian adalah benar-benar manipulatif, bahkan mengelabui, yaitu mendorong orang untuk menggunakan teknik-teknik tertentu agar orang lain suka kepadanya, atau memalsukan ketertarikan terhadap suatu hobi tertentu agar kita bisa mengikuti apa yang orang lain inginkan, atau menggunakan “Kekuatan Penampilan” dan atau mengintimidasi cara mereka menjalani hidup.

Membaca hal ini, saya jadi menyadari sesuatu. Saya telah membaca (namun sebagian besar hanya membaca sepintas) beberapa buku tentang pengembangan kepribadian seperti The Secret oleh Rhonda Byrne, How to Win Friends and Influence People oleh Dale Carnegie, Think and Grow Rich oleh Napoleon Hill, dan mungkin beberapa lainnya serta mengikuti pelatihan kepribadian. Buku-buku dan pelatihan tersebut sebagian besar menjelaskan tentang pencitraan public, sikap dan perilaku, keahlian dan teknik, yang merupakan dasar-dasar pandangan dari Etika Kepribadian. Mungkin saja, hal-hal tersebut berhasil bagi sebagian orang dan bahkan filosofi-filosofi yang mendasarinya ditulis dalam pepatah-pepatah yang menginspirasi. Bagaimanapun, seperti yang disebutkan oleh Covey di dalam bukunya, hal-hal tersebut manipulatif dan mengelabui. Dan saya sekarang setuju dengan pernyataan tersebut.

Akhir-akhir ini di Facebook Feed saya, beberapa teman Facebook saya yang share sebuah artikel tentang sistem pendidikan di Jepang. Tulisan tersebut secara garis besar adalah tentang bagaimana mereka memperlakukan murid-murid mereka, bagaimana mereka menjalankan sistem tersebut, dan bagaimana sistem pendidikan mereka melahirkan orang-orang yang berpendidikan tinggi namun kuat secara karakter. Artikel tersebut aslinya ditulis oleh Junanto Herdiawan di Kompasiana. Untuk membaca tulisan lengkapnya, bisa klik di sini. Tulisan ini sebenarnya mengingatkan saya pada masa-masa sekitar 20-an tahun yang lalu ketika saya bersekolah di Taman Kanak-kanak dan SD di Jerman. Oh iya! Omong-omong, setiap pagi di sini ketika saya berangkat ke kantor, saya selalu melihat sekumpulan anak-anak SD yang berjalan berombongan ke sekolah persis seperti yang saya alami dulu. OK, kembali ke topik, berbicara masalah sistem pendidikan di Jerman maupun Jepang, saya secara pribadi tidak benar-benar mengetahui bagaimana sistem tersebut dijalankan karena ketika di Jerman pun saya hanya sempat merasakan bersekolah sampai kelas 1 SD dan untuk sistem pendidikan di Jepang sendiri, saya pun buta karena meskipun saya sekarang tinggal di Jepang, namun saya tidak punya anak yang bersekolah di sini sehingga tidak bisa membuat perbandingan. Namun secara umum, apa yang saya alami ketika bersekolah di Jerman hampir mirip dengan apa yang saya baca dalam tulisan tersebut. Pengalaman saya bisa dibaca di sini.

Karena saya sekarang tinggal di Jepang dan dulu sempat tinggal di Jerman juga, saya dapat merasakan perbedaan khususnya pada kehidupan sosial dan mentalitas antara orang Jepang dan orang Indonesia. Di Jepang, sepertinya mereka didik dengan berkiblat pada Etika Karakter sementara di Indonesia, Etika Kepribadian lebih menonjol di dalam sistem pendidikan kita. Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana Etika Kepribadian sangat mendominasi sistem pendidikan kita; setiap orang saya kira telah mengalaminya dan sedang mengalaminya.

Well, sebagai produk dari sistem pendidikan Indonesia, kita secara nyata telah dididik oleh dominasi Etika Kepribadian. Namun, kita masih mempunyai kesempatan untuk meningkatkan karakter kita, untuk menjadi lebih baik dalam Etika Karakter, untuk Indonesia yang lebih baik.

One thought on “Etika Kepribadian VS Etika Karakter

  1. Well Betul sekali, Ketika Karakter membutuhkan waktu, fokus dan mindset untuk meningkatkan kapasitas melalui kebiasaan yang jujur dan konsisten, sementara kepribadian lebih kepada kemampuan teknik, sasaran, dan ilmu tentang kepribadian sehingga mudah menunjukkan tetapi tdk permanen, manipulatif, jika kita teruskan sangat merugikan……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s