Yuk Bersedekah! Tapi…

yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautwPertama, ini adalah tulisan pertama saya yang bersinggungan dengan masalah agama. Tulisan ini pun lumayan panjang. Sebenarnya saya enggan membahas masalah seperti ini di forum umum, namun karena merasa terdorong dan sedikit risih dengan fenomena yang beredar di masyarakat, akhirnya saya memberanikan diri untuk sedikit menyampaikan pandangan saya berdasarkan apa yang saya dapatkan melalui diskusi-diskusi panjang serta beberapa kajian.

Kali ini saya ingin mencoba membahas mengenai fenomena sedekah yang semakin menguat di masyarakat. Fenomena ini mencuat dengan begitu hebatnya ketika seorang ustadz memperkenalkan dahsyatnya efek dari sedekah. Kemudian, beberapa pembicara public pun mulai memperkuat testimoni tersebut sehingga muncul lah berbagai buku tentang kehebatan sedekah. Mari kita mulai!

PENTINGNYA NIAT DAN ITTIBA’ (MENGIKUTI) RASULULLAH SAW

Semua amal, betapapun kecilnya, akan dihadapkan pada dua pertanyaan; yang pertama adalah “Apa niatnya?” lalu yang kedua adalah “Apa dalil atau tuntunan syariatnya?”

Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang alasan, dorongan, dan sebab dari perbuatan tersebut, apakah ia disebabkan oleh alasan-alasan dan tujuan duniawi; seperti keinginan untuk mendapatkan pujian dari manusia, takut dengan hinaan manusia, mengharapkan sesuatu yang sangat didambakan, menghindari marabahaya yang bersifat duniawi, ataukah kita melakukan perbuatan itu karena kewajiban ubudiyah (pengabdian), mencari cinta, ridho, dan kedekatan diri kepada Allah SWT serta menjadikannya sebagai wasilah (perantara) kepada-Nya? Jadi dengan kata lain, apakah kita melakukannya karena Allah atau karena keinginan hawa nafsu kita?

Lalu pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang mengikuti sunnah dari Rasulullah SAW dalam ibadah, apakah perbuatan kita itu termasuk tuntunan dari Rasulullah SAW atau bukan?

Jadi pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan dan pertanyaan kedua adalah tentang mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Bersedekah/infaq, sebagaimana amalan lain, harus memperhatikan kedua hal tersebut agar amalan kita jangan sampai menjadi sia-sia tanpa kita pernah menyadarinya.

MENGAPA HARUS BERSEDEKAH?

Harta, sekalipun dia berada di tangan kita, didapat atas usaha sendiri ataupun diberi, sesungguhnya itu hanya sekedar amanah yang dititipkan Allah. Kita tidak mempunyai hak untuk menggunakannya sesuka hati, tanpa mengikuti tuntunan cara memanfaatkan harta yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

QS Al-Hadid 57:7

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infaqkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfaqkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.”

Ketika kita berusaha mencari harta dan pada akhirnya mendapatkannya, maka hal itu bukan karena kepandaian serta keuletan kita semata. Tetapi karena Allah hendak menjadikan kita sebagai pemikul amanah atas harta yang dititipkan.

QS Al-Hadid 57:10

“Dan mengapa kamu tidak menginfaqkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua yang ada di langit dan di bumi?…”

Masih ada beberapa ayat yang menegaskan perintah bersedekah/infaq seperti di QS Al-Baqarah 2:195 dan QS Muhammad 47:38.

APA TUJUAN BERSEDEKAH?

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa bersedekah merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam karena Allah telah jelas memerintahkannya di dalam Al-Qur’an. Lalu apa tujuan kita bersedekah?

QS Al-Baqarah 2:272

“…Dan janganlah kamu berinfaq melainkan karena mencari ridho Allah.”

QS Al-Baqarah 2:265

“Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridho Allah dan untuk memperteguh jiwa-jiwa mereka,…”

QS At-Taubah 9:99

“Dan diantara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfaqkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri (kepada Allah).”

QS Al-Insan 76:9

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula terima kasih darimu”

SEBERAPA BATASAN YANG BIJAKSANA DALAM BERSEDEKAH?

QS Al-Isra’ 17:29

“Dan janganlah engkau jadikan tangamu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (boros), nanti kamu menjadi tercela dan menyesal”

Keseimbangan dalam semua hal merupakan prinsip besar dalam sistem Islam. Dalam segala hal, berlebihan atau kurang adalah sikap yang bertolak belakang dengan prinsip keseimbangan ini. Terlalu boros sehingga tak menyisakan apa-apa di tangan tak disukai Allah walaupun Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah. Kita tak boleh melakukan hal yang konyol, apakah itu kikir atau terlalu boros. Kita juga tidak boleh “menguji” Allah dengan bersedekah terlalu boros, kemudian menunggu-nunggu balasan berlipat ganda dari Allah, karena Allah Yang Maha Bijaksana berbuat menurut apa yang Dia kehendaki, tidak peduli apakah ada yang sedang “menguji” Nya atau tidak. Manusia harus yakin pada janji Allah, tetapi sama sekali tidak mempunyai hak untuk “menguji” Allah, hanya Allah lah yang berhak menguji manusia.

BALASAN BAGI ORANG YANG BERSEDEKAH

Ketika Allah memberitahukan kepada kita tentang balasan dari apa yang kita lakukan, maka ini termasuk ranah urusan Allah. Maksudnya, Allah lah yang aktif dan kita pasif karena tinggal menerima saja. Oleh karena itu, balasan ini fungsinya adalah untuk memotivasi dan memberikan kabar gembira saja, namun bukan untuk dijadikan hal yang justru menjadi alasan satu-satunya, Pasif saja dan tak perlu aktif menunggu-nunggu balasan apalagi sampai hitung-hitungan dengan Allah. Balasan dari Allah bersifat otomatis, tak mungkin Allah memungkiri janji-Nya. Jadi, kita tidak perlu repot memikirkannya. Balasan hanya “akibat”, sedangkan yang menjadi urusan serius bagi kita adalah memperbaiki kualitas “sebab”. Orang yang beribadah kepada Allah (termasuk sedekah), sudah merasa tentram hatinya ketika sudah menuntaskan tugas yang Allah sukai, tidak peduli apakah dia melihat buah amalnya atau tidak, karena yakin Allah menjamin tercapainya balasan. Ibarat orang menembak, asalkan cara menembaknya benar, senjata OK, pasti kena sasaran. Tapi kalau yang dilihat hanya sasarannya saja dengan mengabaikan cara menembaknya, begitupula dengan senjatanya yang tidak berkualitas, pelurunya tidak akan sampai sasaran.

QS Al-Baqarah 2:245

“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak…”

QS Al-Baqarah 2:261

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, ibarat biji yang tumbuh tujuh tangkai. Pada setiap tangkainya terdapat seratus biji. Dan Allah akan melipatgandakan balasan bagi yang dikehendaki-Nya.”

QS Al-Baqarah 2:265

“Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridho Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi dan disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai).”

QS Saba’ 34:39

“…Apa saja yang kamu infaqkan, maka Dia akan menggantinya. Dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik”

SEDEKAH YANG SIA-SIA

QS Al-Baqarah 2:264

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah danhari akhir. Perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatupun dari apa yang mereka kerjakan…”

APA RESIKONYA BILA BERINFAQ HANYA UNTUK TUJUAN DUNIAWI SEMATA?

QS Hud 11:15-16

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.”

QS Al-Isro’ 17:18

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya (di dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian kami sediakan baginya (di akhirat) neraka jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”

PENUTUP

Saya memang tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan crowd-movement berbasis sedekah. Lalu, apakah gerakan-gerakan itu salah? Menurut saya tidak. Justru kegiatan-kegiatan seperti itu sangat baik dan sangat membantu orang-orang yang membutuhkan. Namun, saya hanya ingin mengingatkan saya sendiri dan juga para pemberi sedekah untuk mempelajari bagaimana seharusnya bersedekah itu. Dari mana? yang jelas dari sumbernya langsung atau Al-Qur’an. Saya takut, dengan cara bersedekah yang sebagaimana diajarkan oleh buku-buku dahsyatnya sedekah, mengaburkan makna sedekah kita. Sangat-sangatlah rugi bila perkara akhirat ditukar dengan perkara duniawi. Dan apakah saya bersedekah? Hanya saya, dan keluarga saya, serta Allah yang tahu. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s