Tentang Oleh-Oleh

Gift

Pagi ini ketika saya menengok Time Line Twitter, saya mebaca tweet seorang teman yang hobi traveling.

Sebagai traveler yang sering bepergian keliling tempat-tempat baru ataupun orang yang tinggal di luar daerah atau negeri biasanya akan sangat familiar mendengar kata-kata, “Jangan lupa oleh-oleh yaa!” atau “Eh, kalau balik aku titip A, B, C, D, dan E donk, please!” atau kata-kata sejenis.

Oleh-oleh pada dasarnya adalah sebuah bentuk perhatian kepada orang-orang terdekat kita dan bukan merupakan kewajiban kita ketika kembali dari suatu daerah tertentu. Namun, ntah mengapa budaya memberi dan menitip oleh-oleh ini sudah menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Perasaan nggak enak dan seperti tidak perhatian selalu menghantui para traveler.

Saya termasuk orang yang jarang meminta oleh-oleh dari teman atau saudara yang berpergian. Meskipun saya juga akan merasa senang jika ada teman yang memberi oleh-oleh. Saya punya dua alasan utama mengapa kadang-kadang saya enggan untuk meminta oleh-oleh,

1.       Merepotkan

Saya sering berkaca pada diri sendiri, ketika bepergian ke suatu tempat, barang-barang pribadi saya sendiri sudah sangat merepotkan. Apalagi kita bepergian dengan transportasi umum. Sekarang setelah saya tinggal di Jepang, saya merasakan betul bagaimana merepotkannya membawa 1 koper besar, 1 traveling bag, 1 camera bag, dan beberapa barang bawaan lain ketika berlibur di Indonesia. Saya pernah mengalami ketika 1 koper itu sama sekali bukan barang bawaan saya. 1 koper yang penuh dengan..yaa oleh-oleh dan barang titipan.

Dari sini saya menyadari bahwa orang lain pun akan demikian, lebih baik mendoakan keselamatannya sampai tujuan dan menunggunya kembali untuk mendengarkan cerita-cerita seru dari perjalanannya.

2.       Belum tentu kita suka dengan oleh-oleh dari mereka

Saya beberapa kali mendapatkan oleh-oleh dari teman, tetangga, atau saudara baik berupa makanan atau berupa barang. Kadang-kadang saya suka dengan pemberiannya, namun tidak jarang saya jadi tidak enak karena tidak suka. Kalau makanan, biasanya pada akhirnya tidak termakan dan berakhir di tempat sampah karena basi. Kalau barang, akhirnya cuma tergeletak begitu saja.

Nah, saya jadi kasian ketika hal seperti ini terjadi. Dia sudah mengorbankan waktu untuk mencari oleh-oleh, mengorbankan materi untuk membeli oleh-oleh, dan juga mengorbankan diri sendiri untuk bersedia repot-repot membawakan oleh-oleh, ehh..nggak kebeneran, kitanya nggak suka.

Namun demikian, saya pun kadang-kadang tetap menyisipkan oleh-oleh diantara barang bawaan saya, sekedar bentuk perhatian kepada orang-orang terdekat, tapi tetap mengukur kemampuan saya apakah itu barang yang mudah dibawa dan atau mudah didapat. Beruntung, orang tua saya bukan tipe orang yang menuntut dibawakan oleh-oleh sama anak-anaknya. Bagi saya pribadi, untuk orang tua, lebih baik “mentahannya” saja, hehehe..atau mungkin makanan yang kira-kira unik dan tidak mudah didapat di Indonesia.

Buat temen-temen pembawa maupun peminta oleh-oleh, ini ada beberapa etika dan tips tentang memberi dan menerima oleh-oleh yang pernah saya baca.

Etika Membeli Dan Menitip Oleh-Oleh

Happy traveling!

One thought on “Tentang Oleh-Oleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s