Islam Ritual

Sudah lama saya memendam keinginan untuk menuliskan uneg-uneg tentang  fenomena Islam ritual. Sejauh ini, saya hanya mengutarakannya melalui diskusi-diskusi ringan di warung kopi dengan sahabat maupun diskusi santai di atas kasur dengan keluarga di rumah. Sampai akhirnya timbul lah keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Terus terang isu ini, bagi saya, sangat menggelitik dan menarik. Mungkin, bisa juga dibilang bikin gregetan yang sampai harus menggertakkan gigi sambil mengepalkan kedua tangan keras-keras sembari mengucapkan “Rrrrrr!!”.

Saya punya definisi sendiri mengenai Islam ritual, walaupun sebenarnya Islam ritual sendiri adalah istilah saya untuk mendefinisikan secara singkat sebuah fenomena di kalangan pemeluk islam. Ritual, menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal-hal yang berkenaan dengan ritus. Sementara ritus sendiri mempunyai arti tata cara dalam upacara keagamaan. Di dalam Islam, hal-hal ritual mencakup shalat, tadarus Al-Qur’an, zakat, haji, umroh, dll.

Lalu apa yang salah dari ritual-ritual dalam Islam tadi? Bukannya kita emang dituntut dan diwajibkan untuk menjalankan ritual-ritual tadi karena disamping itu merupakan perintah Allah, kita juga akan mendapatkan pahala yang besar darinya? Tidak! Dan sekali lagi tidak ada yang salah ketika kita mengerjakan ritual-ritual tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalankan ritual-ritual tersebut hanya sebatas ritual. Mengerti maksud saya?

Shalat Mencegah Kemungkaran?

OK, kebetulan kita hidup di Indonesia yang 85% penduduknya beragama Islam. Seharusnya, hidup dalam Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan membuat kita lebih tenang dan bahagia. Pemimpin-pemimpin yang amanah, angka kriminalitas yang rendah, kesejahteraan yang terjamin, masyarakat yang saling menghargai, dan masih banyak hal-hal ideal yang lain. Mengapa? Karena di dalam Al-Qur’an pun sudah dengan sangat jelas disebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa,

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”

Namun, sangat disayangkan bahwa yang terjadi di negara kita tercinta ini adalah hal-hal yang sebaliknya. Saya tak perlu menyebutkannya satu-persatu karena kita semua sudah paham dan hampir setiap hari disuguhi berita-berita yang membuat kita menggeleng-gelengkankan kepala atau bahkan membuat darah kita naik ke ubun-ubun. Lantas mengapa ini terjadi di negara kita yang mayoritas muslim? Jelas penyebabnya adalah bahwa shalat yang kita lakukan hanya sebatas ritual. Membaca kalimat demi kalimat dalam bacaan shalat seperti membaca jampi-jampi atau mantra sihir. Pokoknya tuntunan bacaannya seperti itu, maknanya apa itu perkara belakangan. Begitu pula dengan ritual-ritual yang lain seperti haji, umroh, tadarus Al-Qur’an dan lain-lain. Ketika itu hanya sebatas ritual, tak akan berpengaruh apa-apa dalam kehidupan di masyarakat (entah dengan kehidupan di akhirat, karena bukan domain saya untuk menghakimi).

One Day One Juz

Akhir-akhir ini sedang marak di media sosial mengenai kegiatan positif yang bernama One Day One Juz atau biasa disingkat ODOJ. Kegiatan ini tentu saja positif, tapi lagi-lagi saya menilai kegiatan ini hanya sebatas ritual saja, sekedar melafalkan bacaan Al-Qur’an sebanyak minimal 1 Juz sehari. Eh, tapi bukankah kegiatan itu bisa menambah keimanan seperti disebutkan dalam surat Al-Anfal  ayat 8?

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.”

OK, saya bukan ahli tafsir atau bahkan lulusan universitas Al-Azhar yang terkenal itu. Tapi, bayangkan saja begini, kita baru saja membeli sebuah mesin dari vendor Jepang yang ada buku petunjuknya dalam bahasa dan karakter Jepang. Katakanlah, kita jago membaca huruf-huruf kanji dan kana. Masalahnya, kita tidak mengerti artinya. Lalu apakah pada akhirnya kita bertambah pemahamannya tentang penggunaan mesin yang baru saja kita beli? Nnggg..saya rasa tidak. Atau contoh lain begini, ada seorang siswa dari Indonesia, dibacakan buku pelajaran berbahasa Russia oleh gurunya. Apakah ilmunya akan bertambah? Nnnggg..saya rasa juga tidak. Nah, begitu pula dengan tadarus Al-Qur’an. Kalau hanya dengan melafalkan arabnya saja, sulit dipahami dengan logika apapun apabila kemudian keimanan seorang muslim bertambah. Orang nasrani di negara-negara Arab, tentunya Injil-nya juga berbahasa arab. Lantas, apa bedanya melafalkan Al-Qur’an dengan melafalkan injil berbahasa arab? Bagaimana kalau ternyata yang diperdengarkan adalah pelafalan injil berbahasa arab yang kita kira adalah ayat-ayat Al-Qur’an? Gemetar juga hatinya, Bro? Ada kisah nyata yang lucu yang saya baca dari twitter, seorang ibu memarahi seorang pria, yang bertatto salib dan yesus, mengenakan baju dengan kaligrafi arab. Sang Ibu menghardik, “Heh! Kamu pakai tattoo salib dan yesus kenapa pakai baju tulisan Al-Qur’an? Itu namanya penghinaan terhadap kitab suci!”. Dengan tenang si pria menjawab, “Ibu bisa baca tulisan Arab?”. “Ya jelas bisa!” kata si Ibu dengan PD. “Bu, ini do’a Bapa Kami dalam bahasa arab!” dan terdiamlah si Ibu dengan malu.

doabapakamiKaus bertuliskan kaligrafi Doa Bapa Kami

Iman itu tumbuh karena ilmu atau pemahaman. Iman tanpa ilmu atau pemahaman itu disebut taqlid atau ikut-ikutan, seperti dalam pepatah jawa, “Koyo kebo dicocok irunge”. Loh, bukannya melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an itu mendapatkan pahala? Well, kalau orientasinya pahala, ya orientasinya sekedar ritual saja dan bukan karena keingin-tahuan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana menjalani kehidupan ini dengan benar.

Namun, di luar sana banyak yang berpendapat, mempelajari Al-Qur’an itu perlu ilmu yang tinggi. Harus berguru pada syaikh-syaikh di Arab sana, di Kairo, Makkah, atau Madinah. Mempelajari Al-Qur’an tanpa ilmu itu sesat dan menyesatkan! Well..well..well.. kalem bro.. Sekarang begini, kita semua setuju bukan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada manusia yang diciptkan-Nya sebagai buku petunjuk? Saya kira di pelajaran agama sejak SD juga sudah diberi pemahaman seperti itu. Yang namanya buku petunjuk itu seharusnya dan semestinya mudah untuk dipahami tanpa penafsiran yang rumit. Bayangkan sebuah vendor komputer yang mengeluarkan buku petunjuk dengan keterangan, “Membaca buku petunjuk tanpa ilmu yang memadai dapat mengakibatkan kesalahan fatal dalam pengoperasian, oleh karena itu disarankan kepada pengguna untuk mempelajari buku petunjuk di sekolah-sekolah khusus selama 5 tahun dengan didampingi oleh para professional!”. Jelas, ini konyol bukan? Lalu, apakah Tuhan menurunkan buku petunjuk berupa kitab suci Al-Qur’an hanya untuk para ulama, sehingga haram hukumnya bagi orang awam untuk membaca dan menelaahnya hanya karena dianggap bisa salah tafsir?

Sering kita mendengar para mualaf di negara-negara barat atau non-muslim yang memeluk agama Islam setelah membaca Al-Qur’an. Membaca lho ya, bukan melafalkan. Mereka membacanya dengan seksama, surat demi surat dan ayat demi ayat, sehingga mendapatkan ilmu-ilmu dan pengetahuan darinya. Dari ilmu-ilmu yang mereka dapatkan, tumbuhlah keimanan mereka dan semakin yakinlah bahwa Islam adalah agama yang mereka cari-cari selama ini. Banyak dari mereka, dari kisah yang saya baca atau dengar, yang sekedar membeli Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa mereka masing-masing lalu membacanya. Tanpa belajar di Kairo, Mekkah, atau Madinah pun mereka bisa memahami isi dari Al-Qur’an sehingga memutuskan untuk memeluk Islam. Ini adalah tanda bahwa sebenarnya Al-Qur’an itu sebuah buku petunjuk yang mudah dipahami. Lalu, kenapa ada pendapat bahwa melafalkan bacaan Al-Qur’an itu berpahala, sedangkan membaca artinya tidak? Bukankah dengan sekedar melafalkan bacaannya, mereka para mualaf tidak akan pernah menemukan kebenaran Islam? Secara logika saja, bukankah membaca terjemahannya juga berpotensi menambah pundi-pundi pahala?

Ada kisah lain mengenai seorang ulama dan da’i besar di negara ini, beliau rutin mengisi kajian tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta. Dari segi kapabilitas, beliau tidak perlu diragukan lagi. Beliau dulu adalah santri di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah Malang, lalu melanjutkan sekolah dan kuliah di Al-Azhar Kairo sampai meraih gelar Doktor di bidang tafsir. Kajiannya cukup menarik, namun di beberapa kajian, beliau mengeluarkan penafsiran yang menurut saya, yang awam ini, sudah jauh melenceng dari konteks dan cenderung ngawur. Saya yang bukan ahli agama pun sampai mengernyitkan dahi, aneh. Namun karena latar belakang beliau yang Doktor di bidang tafsir Al-Qur’an, beliau aman dari kritik apalagi sampai label sesat dan ngawur.

Paradox Budaya “Islam” di Negara Non-Muslim

Saya dan keluarga saya pernah tinggal di Jerman sedangkan kini saya tinggal di Jepang. Saya sering bercerita mengenai kehidupan bermasyarakat di Jepang yang begitu bermartabat kepada Ibu saya. Kejujuran, toleransi, saling bantu-membantu, amanah, dan hal-hal positif lainnya sangat mudah ditemukan di negara yang mayoritas agamanya non-muslim. Hal ini membuat ibu saya mengingat-ingat apa yang dialami beliau ketika kami di Jerman puluhan tahun lalu. Ibu saya merasakan hal yang sama. Inilah yang saya sebut paradox. Masyarakat madani yang bermartabat yang seharusnya menjadi cerminan dari masyarakat Islam sepertinya jauh panggang dari api. Sedangkan di dua negara tersebut, masyarakatnya bisa saya sebut, sangat islami. Islami di sini bukan dalam lingkup ritual. Tetapi dalam ruang lingkup bermasyarakat. Tidak hanya saya yang merasakan pengalaman seperti ini, hampir setiap orang yang pernah singgah atau tinggal di Negara-negara tersebut selalu mengamini.

Sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan. Pemeluk Islam hanya menjalankan agamanya secara ritual tanpa makna. Islam bukan hanya urusan kita kepada Tuhan, tetapi juga melingkupi urusan sesama manusia. Itulah yang disebut Muamalah. Ruh muamalah yang baik ini yang makin lama semakin luntur dari pemeluk Islam, karena mereka hanya fokus pada kegiatan ritual saja.

Saya geram, marah, dan kecewa ketika berinteraksi dengan orang-orang dengan label religius bahkan aktivis dakwah tetapi muamalah-nya nol besar. Sering saya dibuat kecewa dengan orang-orang demikian. Ada cerita ketika kami bertamu untuk sekedar menyampaikan oleh-oleh. Waktu itu kebetulan ba’da Maghrib sekitar pukul 18.30. Kebetulan yang membukakan pintu adalah anak dari tuan rumah. Kami masuk, menunggu di ruang tamu. Tuan rumah pada saat itu sedang tadarus. Kami menunggu cukup lama, saya mulai merasa kesal, kenapa tadarus menjadi lebih prioritas daripada memuliakan tamu? Akhirnya oleh-oleh hanya kami titipkan dan kemudian pulang tanpa ditemui oleh tuan rumah. Ah, saya mungkin salah karena bertamu di waktu yang “tidak tepat”. Ada cerita lain ketika kami mengadakan aktifitas jual beli dengan seorang “aktivis dakwah”, waktu itu kami membeli buah. Ternyata setelah kami buka, hampir separuh dari buah yang kami beli dalam keadaan busuk. Cerita lain ketika Ibu saya membeli jilbab ke seorang aktivis dakwah juga, ternyata jahitanya tidak rapih, ketika hendak dikembalikan, sang penjual menolak dan mengatakan sebaiknya dikembalikan ke tukang jahitnya saja. Dan masih banyak pengalaman-pengalaman lain yang membuat hati ini pilu.

Itulah akibatnya ketika Islam ini hanya dijalankan secara ritual bukan sebagai jalan hidup. Tanpa makna, tanpa ilmu, kosong. Setiap pribadi muslim sibuk mencari pahala sebanyak-banyaknya tanpa menyadari banyak sekali perilakunya yang bisa saja menghanguskan seluruh pahala yang sudah susah-susah didapatnya.

Muhasabah Ritual

Manusia, siapapun itu, wajib berkontemplasi dan instropeksi. Dalam Islam, kegiatan ini dikenal dengan muhasabah. Saya pernah terlibat dalam kelompok pengajian ketika masih berusia remaja. Setiap akhir hari, kami diwajibkan untuk ber-“muhasabah”. Kami diberi sebuah kolom isian berisi ibadah-ibadah yang telah kami lakukan seperti, shalat lima waktu, shalat sunnah, puasa, tadarus Al-Qur’an, infaq  dan sadaqah, dan beberapa ibadah ritual lainnya. Di setiap pertemuan, kami wajib menyampaikan laporan hasil muhasabah kami. Jika ada yang bolong, kami dikenakan hukuman atau biasa disebut iqob. Hukuman biasanya berupa infaq. Kegiatan seperti ini sepertinya masih berjalan sampai sekarang di setiap kelompok-kelompok pengajian atau biasa disebut Liqo’.

Kegiatan ini bagus, tapi penekanan muhasabah terhadap ibadah-ibadah ritual seperti ini sangat berbahaya. Itulah mengapa banyak aktivis dakwah yang secara muamalah, kelakuannya jauh dari perilaku islami. Muhasabah ritual itu penting, tapi muhasabah muamalah juga tidak kalah penting. Sekali lagi, kita adalah makhluk Tuhan sekaligus makhluk sosial. Hubungan kita dengan Tuhan jangan sampai mengorbankan hubungan kita dengan manusia.

5 thoughts on “Islam Ritual

  1. ulasan yang menarik… isi trit yang menarik.
    sangat disayangkan trit ini tidak banyak komentatornya. aneh juga.

    Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Hukum kedua yang sama dengan itu ialah Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s