Ahh..Toh Aku Bakal Dikasihani..

Beberapa waktu lalu ada keluhan seorang perempuan yang diposting di media sosial karena diminta memberikan tempat duduknya untuk seorang ibu hamil di kendaraan umum. Siapa sangka, keluhannya tersebut dengan cepat menyebar bak api yang menyambar belukar di ladang yang kering. Beragam reaksi diterima perempuan bernama Dinda tersebut yang tentunya mayoritas berisi kecaman dan sumpah serapah kepada dirinya.

1094290_20140416053255Keluhan Dinda di media sosial Path

Setelah mengetahui keluhannya terhadap ibu hamil tersebut menyebar luas dengan liar di media sosial, lantas Dinda mengeluarkan pembelaannya dengan menekankan bahwa untuk mendapatkan tempat duduk, dia rela untuk berangkat jam 5 pagi. Dia mengeluh karena dengan pengorbanan yang dia lakukan tetap saja dia harus menyerahkan tempat duduknya untuk si Ibu hamil tadi, sehingga dia merasa enggan untuk memberikannya begitu saja. Lalu dia menyarankan kepada orang-orang yang mencaci-maki dia untuk ikut merasakan pengorbanan yang dia lakukan setiap hari. Sayang, tidak ada penjelasan mengenai tempat duduk yang dimaksud, apakah itu common seat atau priority seat. Menurut saya, pembelaan ini tidak bisa dibenarkan atau disalahkan begitu saja tanpa melihat duduk perkara yang sesungguhnya.

1094290_20140416073100

Pembelaan Dinda

Dalam tulisan ini, saya tidak berusaha untuk membela ataupun ikut-ikutan mencela si Dinda tersebut. Saya ingin mengajak pembaca untuk melihat permasalahan ini dari sudut pandang yang lebih luas.

Di Jepang, saya termasuk orang yang sering menggunakan jasa angkutan umum baik itu bus kota maupun kereta api. Sama halnya dengan di Indonesia, penumpang di sini pun beragam dari anak-anak, ibu hamil, ibu dan bayinya, lansia, sampai penderita disabilitas. Pernah pada suatu hari ketika saya sedang bertugas di Okayama (di sini saya harus pulang pergi ke kantor dengan menggunakan Bus dan jarak antara hotel dan kantor cukup jauh sekitar 45 menit perjalanan) saya tertidur di bus karena kelelahan sepulang kantor jam 20.00. Kebetulan pada saat itu, saya duduk di kursi yang bersebelahan dengan pintu masuk. Di tengah perjalanan, ketika bus berhenti di sebuah halte, saya terbangun. Seorang ibu yang menggendong bayinya sambil menggandeng anaknya masuk kedalam bus. Bus waktu itu penuh, dan benar-benar pada saat itu, semua penumpang tertidur (rata-rata penumpang naik di halte yang sama dengan saya, karena saya bekerja di kawasan riset semacam Puspiptek di Serpong, dan turun di halte yang sama pula yaitu stasiun kereta api). Si Ibu tadi karena tidak kebagian tempat duduk, lantas berdiri. Bayinya sudah terlelap di pelukan ibunya sementara kakaknya berdiri diam sambil tetap digandeng oleh ibunya. Saya berdiri, lalu menepuk pundak si Ibu, “Okusan, dozo suwatte… (Nyonya, silahkan duduk)” kata saya. Si Ibu menoleh, “Ie..ie..daijoubu (Tidak, terima kasih. Saya ndak papa)” kata si Ibu sambil memberi isyarat dengan tangannya bahwa dia tidak masalah jika harus berdiri. Akhirnya karena tidak tega, saya tetap memaksa. Akhirnya si Ibu dan anak-anaknya duduk di kursi yang saya berikan. Pikir saya, mungkin si Ibu tadi menolak karena melihat saya tertidur ketika dia hendak naik bus tadi, mungkin.

 

2341Bus di Okayama, pintu masuk adalah yang di tengah sedangkan pintu keluar di samping sopir

Lain cerita ketika saya sedang jalan-jalan di Tokyo, saya dan teman saya berkeliling Tokyo dengan kereta komuter. Beruntung, saya dan teman saya dapat tempat duduk kala itu, karena kami berangkat dari stasiun pertama. Setelah melewati beberapa stasiun, penumpang mulai padat. Sampai sepasang kakek nenek memasuki kereta dan berdiri tepat di depan kami. Saya taksir umur mereka sekitar 70an karena umur 60an itu masih usia produktif (usia pensiun saya di perusahaan, 65 tahun). Kontan, kami berdiri dan menawarkan tempat duduk kami untuk mereka. Tak disangka, mereka menolak, saya memaksa, mereka tetap menolak. Pada akhirnya kami tetap duduk dengan perasaan tidak enak.

Sementara itu, saya ada pengalaman lain, namun kali ini di tanah air. Ada sebuah keluarga miskin yang mendapatkan bantuan untuk keperluan hidup mereka. Awal-awalnya tak ada masalah, sampai lama-lama ini seperti “pemalakan terselubung”. Tiba-tiba minta uang untuk biaya rumah sakit untuk anaknya yang ini, lalu biaya rumah sakit lagi untuk anaknya yang lain, belum lagi biaya rumah sakit karena kecelakaan, selalu ada aja alasan untuk meminta uang. Mungkin bagi mereka, kami ini miskin dan biarlah kami tetap miskin, toh pasti nanti kami akan dikasihani. Istilah bahasa jawanya, “Ndodro”.

Sepertinya sudah merupakan karakter orang Jepang bahwa mereka tidak mau terlihat lemah. Ketika saya tinggal di Bunsui, sebuah kota kecil di Perfektur Niigata selama 3 tahun, banyak sekali saya melihat orang-orang tua yang bepergian sendiri, umurnya saya kira 70-80 tahunan. Mereka sendirian menunggu bis atau kereta datang. Sepertinya lagi, ketika mereka masih merasa sanggup, tampaknya mereka enggan untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Sementara orang Jepang malu terlihat lemah, kita orang Indonesia mungkin lebih senang menonjolkan kelemahan kita sebagai excuse agar kita bisa mendapat belas kasihan orang lain. Kita mungkin lebih senang mengorbankan orang lain atas nama empati, baik itu uang, waktu, ataupun tenaga. Apalagi yang namanya empati di Indonesia, mungkin sudah menjadi barang langka yang mahal.

Pada kasus Dinda tadi si Ibu hamil sebenarnya juga belum tentu salah, seperti apa yang dilihat dalam sudut pandang Dinda. Mungkin si Ibu hamil itu tidak bisa berangkat se-awal Dinda karena harus menyiapkan sarapan buat suaminya atau mungkin harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Namun, yang sangat disayangkan adalah reaksi masyarakat di media sosial yang begitu massif dengan cacian dan hujatan yang tidak terkontrol. Masyarakat kita ini tidak terbiasa melihat suatu peristiwa atau berita dari segala sudut pandang.

Sekarang pelajaran bagi kita, terutama saya, adalah jangan jadikan kelemahan kita sebagai excuse untuk mendapat belas kasihan orang lain, atau Ndodro itu tadi. Di lain pihak, jangan jadikan pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu menihilkan rasa empati kita terhadap sesama.

Sekian.

28 thoughts on “Ahh..Toh Aku Bakal Dikasihani..

  1. saya gak setuju :p

    soalnya memang kondisi di sini udah parah si dinda itu hanya salah satu yang mengungkapkan isi hatinya. :v pernah waktu naik KRL (di kursi prioritas) ada ibu2 gendong bayi masuk. yang respon berdiri (dari tempat duduk) cuma saya, yang lain pura2 tidur :v

    tapi pernah juga sih waktu gendong anak di KRL ditawarin anak ane dipangku-in sama ibu2..tapi ane kan perkasa jadi ane tolak tawaran ibu-ibu itu…hahahaha

    dari pada ber-prasangka bahwa orang lain minta dikasihanin mending kita keporo ngalah (istilah jawa) atau dulu2an mengalah.

    1. Hahahaha..makanya tho Com, di kesimpulan kan ane bilang “jangan jadikan kelemahan kita sebagai excuse untuk mendapat belas kasihan orang lain. Di lain pihak, jangan jadikan pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu menihilkan rasa empati kita terhadap sesama.”. Maksude, dadi uwong lemah kie ojo ndodro. Nha, nek sing kuwat ha mbok yo keporo ngalah.

      Soalnya kalo dari postingannya si Dinda, dia bukannya berprasangka kalo si Ibu hamil tadi minta dikasihanin. Tapi minta tempat duduk sama dia, itu mungkin yang bikin dia kesel.

      Eh kalo orang lain pura-pura tidur, itu aku tidur beneran..dan untungnya kebangun, jadi nggak dikirain pura-pura tidur soalnya kursiku deket si Ibu tadi berdiri jhe..hahahaha

  2. sayangnya si dinda jg tidak menjelaskan apakah tiap hari ketika dia mendapat tempat duduk, pasti ada ibu hamil yg memintanya. kalo memang iya, keterlaluan. tp kalo hanya terjadi sesekali, menurut saya ga perlu sekeras itu responnya terhadap ibu hamil. dan ga semua ibu hamil (menurut saya) merepotkan orang lain, dalam hal ini meminta tempat duduk

    1. Terkait dengan respon Dinda, saya pun geleng-geleng kepala. Tapi siapa yang salah antara ibu hamil dan si Dinda? Tidak tau juga, karena saya tidak berada di sana. Informasinya, kejadian ini tidak terjadi di gerbong wanita. Artinya, di dalam gerbong banyak juga laki-laki gagah. Jadi dari kasus ini, satu gerbong nampaknya kehilangan empati karena tidak ada satupun orang yang menawarkan tempat duduk. Kebetulan, yang diminta tempat duduknya si Dinda, karena Dinda merasa sudah melakukan pengorbanan untuk dapat tempat duduk, akhirnya pernyataan reaktif lah yang keluar dari Dinda.

      Kita tidak tau juga lho, kalo ternyata beberapa orang yang ikut menghujat si Dinda ini ternyata satu gerbong dengan dia. hehehe

  3. Sebelumnya, Salut buat nandi yg masih mau memberikan tempat duduknya untuk orang lain. pada kenyataannya kondisi empati masyarakat indonesia yg tinggal di jakarta emang dah jauh menurun, mereka cenderung egois dan mementingkan diri sendiri. Mengenai masalah tempat duduk di KRL jabodetabek, sebetulnya sudah ada priority seat, tapi parahnya biasanya tempat duduk itu sudah ditempati oleh orang2 yg tdk masuk daftar priority, nah saat ada yg lebih berhak untuk menggunakannya,mereka umumnya pura2 sakit ato tidur itu tadi. Yg jd publik enemy itu kan sebenarnya yg kayak gitu tadi. Nah, untuk msalah Dinda itu tadi, aq rasa dia tidak pada tempatnya ngomel kayak gitu, walaupun kenyataannya ibu hamil itu beda2 kondisinya, tapi secara umum mereka akan mengalami kelelahan yg luar biasa karena membawa beban berat diperut dan nutrisi di tubuh dia harus dibagi dg anaknya. Bahkan ada yg sampe keropos gigi karena kalsiumnya disedot si calon bayi. statusnya dinda itu menunjukkan betapa dia gak paham kondisi itu (atau gak mau tau).jangankan untuk berangkat pagi, bangun dr tempat tidur saja ada yg harus dengan usaha keras. Gak cuman dia aja yg harus berdiri di KRL, tapi cuman dia yg menghujat habis2an ibu hamil secara terang2an tanpa memikirkan kondisi dan perasaan mereka.

    1. Terima kasih, Mbak Ayu. Pernyataan Dinda yang reaktif memang tidak bisa dibenarkan. Dari informasi yang saya dengar, kejadian ini di gerbong campur. Berarti, orang-orang yang duduk di gerbong itu tak ada satupun yang punya empati. Kebetulan yang diminta tempat duduknya si Dinda, karena tak ada satu orang pun yang menawarkan tempat duduknya buat si Ibu hamil ini. Sayangnya, pernyataan Dinda di media sosial terlalu reaktif.

      Sayangnya lagi, orang-orang yang menghujat Dinda itu apa jaminannya kalo mereka adalah orang-orang yang punya empati. Siapa tau orang yang duduk satu gerbong dengan mereka ternyata salah satu yang menghujat-hujat Dinda.

      “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”

  4. Salam kena, tulisannya bagus. Bisa jalan kesini soalnya dishare di timeline teman. Jadi ngingetin buat diri sendiri buat membiasakan budaya malu kalau memperlihatkan kelemahan. Memang ada yg berbeda dr karakter bangsa yg maju ya. Moga2 ketularan

  5. Karena kadar “rasa empati” masing2 org berbeda maka timbullah friksi..tp qt nggak boleh pesimis,msh byk org baik diluar sana dan org2 spt inilah yg patut diapresiasi..

    1. Empati itu bukan bakat. Jadi, kita bisa terus memupuk rasa empati kita ke sesama. Saya juga berharap, suatu saat nanti bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki empati yang tinggi.

  6. keren banget tulisannya Mas. Saya sangat setuju. Tapi setidaknya ada hal yang lebih urgent lagi, dalam hal ini kasus tersebut soal ibu hamil. Karena sangat riskan jika ibu hamil berlama-lama berdiri.

    1. Terima kasih, Mbak Tina. Ibu hamil, lansia, disable, memang perlu diberi perhatian khusus. Kebetulan dalam kasus ini saya bisa katakan, orang-orang di dalam gerbong tersebut sudah kehilangan empati, karena si Ibu hamil sampai harus meminta tempat duduk. Kebetulan yang diminta tempat duduknya si Dinda. Reaktif pula itu anak. Habis deh dihujat orang se negara..hehehe

  7. Tulisannya cukup bagus mas..tapi saya rasa kurang pas juga kalo ibu hamil yg minta tempat duduk lantas dimasukkan kedalam kategori ndodro ato org yg menjadikan kelemahannya sebagai excuse agar dikasihani..Tapi saya maklum, karena sampeyan kan laki2 yg tidak pernah n tidak akan pernah hamil..jadi mungkin sulit bagi anda untuk bisa paham sebenar2nya apa yg dialami seorang perempuan ketika hamil..Ibu2 hamil itu jg sebenernya nggak mau dikasihani tapi memang kondisi badannya yg membuatnya terlihat seperti itu, sama aja kaya org miskin yang walupun mungkin dia nggak mau dikasihanin karena kemiskinannya tapi tetep aja kan org lain kalo punya empati pasti kasian and prihatin ngeliat kemiskinannya..intinya balik lagi ke empati tadi..seharusnua kalo org bisa berempati ibunhamil nggak akan merasa perlu meminta tempat duduk..apalagi sampai dimaki hanya gara2 tempat duduk yang mungkin dikasih atau mungkin jyga nggak ke ibu hamil tersebut..dan saya rasa nggak salah juga kalo wanita hamil minta diberi pengertian..karena kondisinya memang spesial..lansia dan anak2 pun kondisinya spesial..ga salah kalo mereka minta dingertiin

    1. Terima kasih Mas Syahdeel. Kalau di baca lebih hati-hati, saya tidak pernah menulis kalau si Ibu hamil itu ndodro lho, Mas..saya mengungkapkan sebuah fenomena yang umum terjadi. Kebetulan saya mencontohkan sebuah keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi, tetapi malah seolah-olah menjual ketidakmampuannya supaya bisa dikasihani terus menerus tanpa harus berusaha keluar dari lubang kemiskinan mereka. Bagaimana pengemis-pengemis di jalanan itu menjual “belas kasihan” dengan, maaf, sebagian pura-pura cacat, menggendong bayi yang entah itu sebenarnya bayi siapa. Ini yang saya katakan ndodro, Mas.

      Saya juga pernah miskin, Mas..tidak punya uang, sampai-sampai saya harus sering menuntun sepeda motor butut saya cukup jauh karena kehabisan bensin. Ketika skripsi dan harus tinggal di Lab kampus (menghemat uang bensin), makan sekali sehari di burjo dengan menu nasi telur dan air putih. Kecuali ada teman yang baik hati mentraktir. Alhamdulillah.

      Untuk masalah saya belum pernah hamil, InsyaAllah saya tidak pernah hamil dan tidak akan hamil, Mas. hehehe.. Cuma, saya punya banyak teman perempuan yang pernah hamil dan melahirkan. Karena beberapa pandangan dari mereka, saya menulis tulisan ini. Saya, tidak ingin melihat suatu peristiwa dengan sangat reaktif. Ikut-ikutan menghajar orang yang diteriakin maling. Apakah orang yang saya hajar itu maling beneran? belum tentu.

      Justru di dalam tulisan di atas, saya menuliskan pembelaan buat si Ibu hamil menanggapi pembelaan Dinda yang masih saja reaktif.

      “Pada kasus Dinda tadi si Ibu hamil sebenarnya juga belum tentu salah, seperti apa yang dilihat dalam sudut pandang Dinda. Mungkin si Ibu hamil itu tidak bisa berangkat se-awal Dinda karena harus menyiapkan sarapan buat suaminya atau mungkin harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu.”

      Yang perlu kita pahami adalah, apakah kemudian orang yang mencaci-maki Dinda adalah orang-orang yang memiliki empati yang super tinggi sehingga berhak dengan garangnya mencaci-maki orang lain? belum tentu. Bisa saja mereka justru melakukan hal yang lebih buruk lagi dari Dinda, mungkin di kasus dan jenis kejadian yang berbeda. Kemudian, apakah orang-orang yang nampaknya perlu dikasihani itu benar-benar perlu dikasihani? Belum tentu juga, karena ada juga sebagian kecil tipe-tipe orang yang memang sengaja “menjual” kelemahan mereka.

      Seperti yang saya sampaikan di akhir tulisan saya, ketika kita berada di posisi yang lemah, jangan menonjolkan kelemahan kita agar supaya kita mendapatkan belas kasihan dari orang lain. Sebaliknya, kalo kita berada di posisi yang kuat, jangan sekali-sekali kehilangan empati kita terhadap sesama.

  8. Bagus sih sudut pandangnya, cuma sepertinya penulisnya lupa kalau ini kasus di Indonesia. Pakai kereta ala Indonesia. Hmmmm… Tepatnya ala Jakarta di jam kantor pulak.

    Cow gagah perkasa aja keluar2 bisa terlihat seperti ikan rebus busuk, apalagi ibu hamil. Hehehehe…

    1. Terimakasih, Mas Didi..Iya saya sama sekali belum merasakan naik CL di Jakarta. tapi paling tidak saya pernah merasakan naik CL di sini. Kondisinya, ketika jam padat, mengerikan Mas..orang kalo punya asma, ntah gimana caranya bernafas. Apalagi kalau musim panas yang suhu udaranya lebih panas daripada di Indonesia. Bisa sampai 38-40 derajat C.

      Sebagai gambaran bagaimana padatnya CL di Jepang, bisa lihat di link Youtube ini, Mas..

  9. saya setuju dg tulisan anda, anda menulis bukan soal prilaku dinda, tp lebih sikap kita yg tidak menjadikan kelemahan sebagai senjata untuk mendapatkan empati dr org lain, saya jg wanita yg sudah memiliki 2 anak, dan pernah memakai kendaraan umum sambil berdiri disaat hamil, tp saya tidak pernah meminta belaskasihan dr penumpang lain, “kecuali ada yg menawarkan dan berempati menyediakan tempat mereka untuk saya”…, mungkin ini maksud dari arah topik bahasan anda yg kadang sulit dibedakan oleh mereka yg menanggapinya dg persepsi negatif ttg tulisan anda..

  10. Like it mas, melihat dari sudut pandang yang lebih luas dan ada kemungkinan hal lain dibaliknya… dan bisa menuliskan pendapat itu dengan enak dibaca😀

  11. naaahh massalahnya dinda tidak menggunakan bahasa dan pilihan kata yang baik dan cerdas, sehingga memancing orang-orang untuk membalas omongannya reaksi negatif akan terlontar spontan ketika membaca tulisan status dinda. kalo keluhan ditulis tidak mencaci maki yaaa orang pun gak akan mencaci maki dong :)))

    ttd : ibu yg pernah hamil tp gak pernah naik kereta pas hamil. kurang subjektif sik, tp saya menyayangkan dia memaki terlebih dahulu, sementara issue nya sensitif ya neik. dese pikir dese lahir dari mana? ibu kucing apa? *tuh kembali panas kan hahaha*

    anyway…great writing :)))

    1. Hahahaha…saya baca postingannya Dinda juga gemes, mbak.. cumaaa.. karena sudah banyak yang mencaci-maki, saya rasa cukup lah..hehee. Saya nengahi aja, ambil sudut pandang makro nya aja tentang bagaimana kita seharusnya bersikap baik ketika dalam kondisi kuat maupun lemah. Toh, manusia itu saling menilai kok, jadi kita harus bener-bener pintar menempatkan diri, supaya kitanya enak, orang lain juga tetep enak.

      Anyway thanks sudah mampir di Blog saya, Mbak..

  12. AGREE bgt sama articel ini, gw punya temen sebangku, tiap ada ulangan, mesti nyontek, tiap ada tugas, mesti tinggal ngopy. Kalo gadibagi, kita gaenak hati. Awalnya sih gapapa lama lama jadinya keterusan. Trus gaksegan segan bilang “tugasnya print doble dua ya” padahal gw buatnya sampe jam 11.30 gitu. Gw bodoh bgt? Emang. Kira kira cara gw buat ngehindar dr situasi ini gmn? Kasih saran

  13. AGREE bgt sama articel ini, gw punya temen sebangku, tiap ada ulangan, mesti nyontek, tiap ada tugas, mesti tinggal ngopy. Kalo gadibagi, kita gaenak hati. Awalnya sih gapapa lama lama jadinya keterusan. Trus gaksegan segan bilang “tugasnya print doble dua ya” padahal gw buatnya sampe jam 11.30 gitu. Mungkin pikirnya “Ah Toh paling dia ngebuatin tugas gw”. Gw bodoh bgt? Emang. Kira kira cara gw buat ngehindar dr situasi ini gmn? Kasih saran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s